C. Service 1  :
C. Service 2  :
C. Service 3  :

Katarak Penyebab Kebutaan Paling Sering di Indonesia

Posting by : Admin AINI

Katarak menjadi penyebab utama kebutaan di Indonesia. Paparan sinar ultraviolet, gaya hidup yang tidak sehat, menjadi beberapa dari faktor risiko terjadinya katarak. Untungnya, katarak dapat dikoreksi atau direhabilitasi. Sehingga tidak berujung pada kebutaan.

Katarak terjadi akibat gangguan metabolisme dari lensa mata. Lensa mata yang mestinya jernih, karena metabolismenya terganggu, membuat warnanya menjadi keruh. Akibatnya, sinar yang masuk tidak dapat tembus karena terhalang.

Gangguan metabolisme bisa terjadi karena berbagai faktor. Faktor usia (sebagai proses degenerasi dan biasanya terjadi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun), trauma (karena benturan yang cukup keras misalnya), atau penyakit seperti diabetes. Namun faktor yang paling penting dan paling besar pengaruhnya adalah paparan sinar ultraviolet (UV).

Dipengaruhi UV

“Sinar ultraviolet bisa menjadi radikal bebas yang mengganggu metabolisme lensa mata,” imbuh spesialis mata dari RS Mata AINI. Gaya hidup yang kurang sehat juga bisa menyumbang gangguan metabolisme pada lensa mata.

“Ujung-ujungnya adalah radikal bebas yang mengganggu metabolisme di seluruh tubuh kita. Merokok contohnya. Sangat kuat radikal bebasnya,” katanya.

Keluhan pada katarak ditandai denagn penurunan tajam penglihatan secara perlahan, pandangan berkabut, sampai akhirnya benar-benar buram. Kalau katarak masih tergolong ringan sekitar grade 1-2, biasanya bisa dikoreksi dengan kacamata.

Sementara tindakan rehabilitasi dengan operasi umumnya dilakukan pada mereka yang memiliki katarak dengan grade 3-4. Walau sebenarnya katarak grade 3 biasanya masih bisa dikoreksi dengan kacamata, kebanyakan pasien sudah minta dioperasi.

Tindakan operasi dilakukan dengan mengganti lensa mata yang keruh dengan lensa tanam. Menariknya, lensa tanam yang ada sekarang ini sudah demikian maju. Sehingga sudah memiliki pelindung antiUV atau blue filter protector.

Namun, bila pola hidup sehat diadopsi sejak masih muda, seseorang bisa saja tidak terkena katarak. “Tidak semua orang terkena katarak. Ya, memang jarang sih, tetapi beberapa pasien saya yang berusia lanjut, lensa matanya masih jernih. Kemungkinan besar karena pola hidupnya memang sehat,” tambahnya.

Jadi sebenarnya, katarak bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Tidak merokok, menyantap makanan gizi sehat-seimbang, serta melindungi mata dari paparan sinar matahari, menjadi sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah terjadinya katarak.

Pakai Kacamata AntiUV

Pelindung mata terutama dibutuhkan ketika melakukan aktivitas di luar ruang. “Lindungi mata dengan menggunakan topi serta kacamata pelindung antiUV,”

Khusus untuk kacamata pelindung ini, dokter lulusan FKUI ini memberi rekomendasi penting. Hendaknya, kacamata yang digunakan bukan hanya bersifat adem saja. Karena hal tersebut malah bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mata.

“Kalau kacamata hanya membuat adem saja tanpa filter ultraviolet pupil mata akan melebar. Akibatnya sinar ultraviolet menjadi lebih banyak masuk ke mata,” katanya. Untuk itu, pilih kacamata yang memang dirancang menghalau sinar ultraviolet.

Boks

Komplikasi Katarak Berisiko Glaukoma

Glaukoma bisa menyebabkan kebutaan permanen. Yang sebenarnya dapat dicegah bila dideteksi dini. Dengan pemberian obat maupun tindakan operasi.

“Tindakan tersebut untuk menjaga mata. Memang tidak bisa pulih, tetapi setidaknya belum sampai mengalami kebutaan permanen,”

Selain faktor genetik, penyakit diabetes maupun hipertensi bisa menjadi faktor risiko terjadinya glaukoma. Trauma dan komplikasi katarak pun nyatanya dapat menjadi glaukoma.

( AINI/Dr.FTH)